Kamis, 19 Januari 2017

Marketing Class with Professor Ujang Sumarwan



Neneng Saadah (K15170031)

neneng.saadah17@gmail.com| School of Business (www.mb.ipb.ac.id) |Bogor Agriculture University (www.ipb.ac.id)  


MARKETING CLASS’s Lecture:
Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc. 
             Okay everybody, now I will share you about my first class of marketing with Professor Ujang Sumarwan. This is my first time I met Prof Ujang and he is so amazing, humble and kind. I think this class is really fun and I really enjoy to learn about marketing in this class.
The fisrt meeting in the class, Prof Ujang tough us about Marketing Concept dan Competitive Strategy. Everyone basically done marketing activities or at least do the majority of marketing activities. That activity is actually attempt to convey the message or wishes to others and trying to get the message or desire can be achieved. Companies that produce a product or services is also trying to keep his desire to achieved, the products and services produced unacceptable to consumers and consumers buy them repeatedly. The meeting between the seller and the buyer referred to as the market and the subsequent developments, the market can be interpreted as consumers who requiring a particular product or service. The emergence of the needs coming from the consumer causing marketers to identify needs and offer products or services that fit those needs.
         The orientation of the company towards the market itself can be distinguished by the production concept, product concepts, sales concepts, marketing concepts, customer concept, and the concept of social marketing.
1. Production Concept
Production concept assumes that consumers will prefer goods are widely distributed and sold at low prices. The Company is oriented on production concept will concentrate on achieving the production of high efficiency, low cost, and mass distribution.
2. Product Concept
Company oriented product concept considers that consumers prefer the market offer such high-quality products, excellent performance and innovative features. Assuming the company to produce a product more emphasis manufacture superior products and always to improve the quality, performance and appearance.
3. The concept of Sales
Company oriented to selling concept consider if the consumer is left alone and not be affected, it will not buy the company's products.
4. Marketing Concepts
Marketing concept is a concept that answer the challenge of the three previous concepts. This concept has the principle of planting than hunt.
5. Customer Concept
Company oriented to the customer concept tends to sort through offers, services, and messages to individual customers.
6. Social Marketing Concept
The concept of Social Marketing concept considers that duty is to determine the needs, wants, and and tastes of the target market and satisfy their customers more efficiently and effectively than competitors in ways that maintain and improve the welfare of consumers and society.
7. Holistic Marketing Concept
Where in the further development, enhanced thinking about marketing and sustainable business philosophy can be termed a holistic marketing concept.


Text Book
Ujang Sumarwan (editor). 2015. Pemasaran Strategic: Perspektif Perlilaku Konsumen dan Marketing Plan. IPB Press.Silahkan download e-book: 2015 01 BUKU Pemasaran Strategik Perspektif Perilaku Konsumen dan Marketing Plan

Sumarwan Ujang; Agus Djunaedi; Aviliani; H.C Royke; Jusuf Agus Sayono; Rico R Budidarmo; Sofyan Rambe. (Strategic Marketing: Strategy for Corporate Growth and Share Holder Value).-Pemasaran Strategik: Strategi Untuk Pertumbuhan Perusahaan dalam Penciptaan Nilai bagi Pemegang Saham . Published byInti Prima, Februari 2009, ISBN 979-450-451-3  Please dowload link below for book preview:Silahkan download e-book:2009 UJANG SUMARWAN PEMASARAN STRATEGIK – STRATEGI UNTUK PERTUMBUHAN PERUSAHAAN

Sumarwan, U., Achmad Fachrodji., Adman Nursal., Arissetyanto Nugroho., Erry Ricardo Nurzal., Ign Anung Setiadi., Suharyono., Zeffry Alamsyah. 1st Printing. 2011. Marketing Strategic: Value Based Marketing and Marketing Metrics. Pemasaran Strategik: Persfektif Value-Based Marketing dan Pengukuran Kinerja. Bogor, IPB Press.Silahkan download e-book:2010 UJANG SUMARWAN PEMASARAN STRATEGIK – PERSPEKTIF VALUE-BASED MARKETING

SINOPSIS
Pemasaran strategik menguraikan bagaimana sebuah perusahaan harus memahami konsumen, sehingga dapat menyusun strategi pemasarannya untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan guna meningkatkan kinerja perusahaan dan menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham.Pemasaran adalah memahami berbagai kebutuhan para pelanggan dan mengembangkan sebuah proposisi untuk menawarkan nilai yang superior. Melalui penyediaan nilai pelanggan yang lebih tinggi maka manajemen dapat memberikan dan menghasilkan nilai yang lebih tinggi pula kepada para pemegang saham. Nilai suatu merek dagang terbentuk dari kepercayaan para pelanggan terhadap merek dagang perusahaan. Kepercayaan ini membentuk relasi antara merek dan pelanggan yang mendorong preferensi, loyalitas merek, dan keinginan untuk mempertimbangkan produk dan jasa baru yang ditawarkan perusahaan di masa depan dengan merek tersebut. Buku ini juga menguraikan bagaimana langkah-langkah untuk membangun ekuitas merek serta menjelaskan beberapa metode untuk mengukur ekuitas merek.

Minggu, 22 Maret 2015

Welcome to my life

Peringatan! Ini curhat!

Buka medsos, entah kebetulan atau apa, pas baca pas yang ngomenin mulu orang, yang ini lebih baik dari ini, yang itu lebih baik dari itu. Pas lagi nonton TV, orang sebelah ikut-ikutan ngomenin artis-artis yang pake jilbab buat popularitaslah, cari sensasi beserta komen negatif lainnya. Cowok yang penampilannya rada urakan langsung dijudge negatif, padahal mah kita gak tau kali aja dia rajin sholat, hafalannya mantep. Gak malu apa ngejudge orang sebegitu seriusnya? Kayak dia mau serius aja sama kamu, padahal nggak. hahaha skip >.> 

Ya, namanya juga idup. Jangankan mereka, aku yang cuman biji salak ketendang kaki ayam aja sering banget kena judge buruk dari orang yang baru ketemu satu kali. Pengalaman waktu mau PKL (kalau di IPB namanya KKP) ke Tegal, aku dateng terakhir di penyuluhan karena baru dapet info dipindahin ke Tegal, di tengah-tengah ruangan yang lagi serius aku gak dateng sendiri, bareng kelima temen-temen lainnya. Waktu itu aku paling depan, karna pas mau masuk saling tunjuk-tunjukan, kata si A "lo aja yang duluan",  kata si B "jangan gue atuh, dia aja",  kata si C "lo aja, lo aja" yaudah biar cepet aku paling depan, ketuk pintu, minta izin, jadi sorotan mata, dengan style anak ekonomi yang terkenal manja, merhatiin fashion dll. Jreengg. Seketika langsung dapet judge "Ini anak kayaknya bakal jadi problem team, manja, ga akan turun ke yang becek-becek, hedon, egois dll"

Hell yeah, itu aku tau judge gitu dari temen-temen KKP aku yang kemudian mengklarifikasi di kemudian hari. 
A : Neng, lo diluar dugaan banget. 
N : Kenapa emang?
A : Gue kira lo bakal nyeleneh, manja, ga mau becek-becek, hedon, ya gitu deh pokoknya. Ternyata ya lo aktif banget, nyantei, nurut-nurut aja. Malah yang jadi problem bukan elo neng.
N : Hahahaha masa sih?
A : Serius neng lo tanya aja anak-anak yang lain. Pertama kali lo dateng udah jadi bahan omongan. Sekarang gue bersyukur deh kita seteam, kompak banget. Diluar perkiraan aja.
N : Hahaha, dulu SMA malah pernah dirayap diselokan kayak got, terus diceburin ke pemandian bekas mandi sapi juga pernah.
A : Serius?
N : Iyaaa. Hahahaha

Terus pengalaman dijudge lain pas aku dateng ke lomba kaligrafi, dateng langsung duduk di belakang peserta. Panitia yang baru aja ngehubungin aku langsung nyamperin aku.
R : Mbak neng?
N : Iya, hehe
R : Makasih ya mbak udah dateng. 
Nyodorin tangan, salaman.Temen sebelahnya yang berinisial S langsung nanya
S : Temen lo? Peserta Juga?
R : Temen baru kenal, hehe. Cantik ya?
S : Cantik sih, banyaklah yang cantik doang *bisik-bisik yang kenceng banget*
R : (Gak jawab, langsung beralih nanya aku) Mbak neng minta CVnya ya, ntar nunggu dulu sekitar 2 jam sampe lombanya selesei gapapa kan? Sambil kenalan aja sama juri yang lain, hehe
N : Oh iya, santei aja. Jangan panggil mbak, seangkatan kok.
R : Hahaha iya sih tau, biar agak resmi aja.
S : Oh mbak neng jurinya ya? (Nyamber sambil senyum)
N ; Oh iya kebetulan, hehe. (Sambil nyodorin CV ke R)
R : Wah ini mah bukan kebetulan, di CV nya juri2 sama karya tulis, organisasinya juga banyak.
S : Masa?
R : Cantik doang ya?
S : (Senyum malu)
N : (Ikutan senyum, terus ngedumel di hati, ini orang kok ngomongin orang lain depan orangnya banget)

Pengalaman baru-baru ini juga ada, tiba-tiba sepupu yang jilbaber banget bilang
L : Aku salut sama kamu loh
N : Kenapa?
L : Aku kira kamu pacarnya gonta-ganti. Ternyata nggak pacaran, kok bisa gitu tahan godaan.
N : Pernah kok punya pacar, LDR sih. Pernah juga komitmen serius gitu sama orang tapi belom jodoh terus sekarang mikir yaudahlah males mikirin hal2 kayak gitu.
L : Ya hanya sebatas itu doang kan?
N : Emangnya harus sebatas apa?
L : Aku aja sempet pacaran dan ganti pacar kok.
N : (Lebih shock)
L : Makanya salut sama kamu, aku juga gak tau kalau kamu ngejaga hafalan sama ngajinya juga bagus.
N : Ah, lebay. Nggak sihh, biasa aja.
L : Awalnya aku kira kamu suka gonta ganti pacar gitu neng. Terus kerjaannya main sama kelayapan.
N : (senyum, sambil mikir ebuset seburuk itu apa?)

What? Gonta-ganti pacar? Ngejaga satu aja ribet (Langsung naruh kipas angin depan muka). Aku tau, namanya juga idup. Bolehlah dijudge macem2. Cuman kadang suka gak nyangka aja kalau tiba-tiba ada yang jujur bahwa mereka awalnya ngejudge aku begini taunya begitu. Iya, gak aneh ada yang bilang terlalu dewasa taunya kekanak-kanakan, terlalu kekanak-kanakan taunya dewasa, keras kepala taunya woles, woles taunya keras kepala, apapunlah. Namanya juga manusia. Tapi, aku bukan orang yang fanatik kemudian ngejudge pacaran, jilbab, atau segala macem tentang sifat dan sikap orang. Aku ngejalanin yang aku jalanin karena aku merasa nyaman dengan yang aku jalani dan yang penting gak bikin orang sakit hati. Termasuk kamu, siapapun kamu, kamu yang mau datang ke hidup aku sebagai teman, sahabat, keluarga, orang spesial, atau musuh. Kamu yang memilih menjadi bagian hidupku, pintu aku terbuka selebar-lebarnya untuk kamu, siapapun kamu. Just, welcome to my life!

Kamis, 05 Maret 2015

Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini

Baru-baru ini media sosial baru saja dihebohkan dengan postingan mesra anak-anak SD tehadap pacarnya. Kita sebagai orang dewasa tentu prihatin dengan fenomena sosial yang terjadi pada anak-anak tersebut. Banyak sekali anak-anak yang masih berusia dini, masih duduk di bangku Sekolah Dasar, bahkan yang masih menginjak usia "golden age" sudah berperilaku layaknya orang dewasa. Dalam arti lain mereka mengalami pendewasaan dini yang tidak seharusnya terjadi pada usia mereka. Anak-anak saat ini cenderung mengalami pendewasaan dari sisi perilaku dan pola pikir yang sangat dipaksakan. Usia anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar merupakan usia dimana mereka seharusnya masih asyik bermain, bukan asyik pacaran. Namun fenomena sosial yang terjadi saat ini sungguh sangat mengejutkan. Anak-anak usia dini sudah mengerti bagaimana cara memperlakukan lawan jenis secara "spesial", tahu bagaimana "menjadi pacar yang baik", bermesraan, selingkuh dan lain sebagainya. Fokus mereka terhadap belajar dan bermain pun teralihkan dengan hal-hal seperti itu. Lalu, bagaimana nasib calon penerus bangsa ini? Apakah ini fenomena penghancuran karakter anak bangsa secara massal? Ya, disitu kadang saya merasa sedih.

Perlu kita ketahui, tumbuh kembang anak tidak lepas dari peran orang tua, keluarga, guru dan lingkungan. Bukan sepenuhnya salah mereka, jika mereka mengalami pendewasaan dini yang tidak seharusnya. Mungkin mereka adalah cerminan dari diri kita. Jika tiba-tiba beredar di media sosial anak-anak SD umbar kemesraan dengan pacar layaknya orang dewasa, mungkin mereka mencontoh orang-orang dewasa yang mengumbar kemesraan di media sosial. Hanya saja mereka melihat, merekam dan mencontoh sebelum waktunya. Maka bersyukurlah kalian yang jomblo, karena kalian tidak menyumbang penghancuran karakter anak-anak (Itu pembelaan aja sih buat yang jomblo.... >.> ).

Anda juga pasti tahu bahwa teknologi adalah monster yang sangat berperan penting dalam membentuk karakter anak, khususnya anak-anak jaman sekarang. Tidak heran jika muncul istilah anak korban teknologi. Mending kalau positif, kalau negatif? Itu yang perlu diwaspadai. Di usia anak-anak, mereka selalu merekam, mencontoh dan melakukan apa yang mereka lihat. Disanalah peran orang tua begitu dibutuhkan, terutama peran dari seorang ibu. Penting sekali orang tua khususnya ibu memperhatikan perubahan perilaku yang terjadi pada anaknya. Tapi bukan berarti bapak-bapak juga tidak berperan ya, hanya saja ibu sejenis malaikat yang paling peka terhadap perubahan perilaku anak-anaknya. Melihat perkembangan teknologi yang sudah seperti bom dan sewaktu-waktu bisa menghancurkan karakter anak anda. Maka perlu adanya pembatasan akses teknologi seperti televisi, handphone, internet, dan sosial media. Dampingi dan pilihlah acara televisi yang bagus untuk anak-anak anda, atau kalau perlu delete aja deh channel yang isinya sinetron gak bermutu dari TV anda. Batasi dan awasi pula penggunaan handphone maupun internet.

Nah, sebelum anak anda menginjak usia anak-anak yang sudah bisa mengakses teknologi tersebut, kuatkan pembentukan karakter anak pada usia golden age atau usia 0-6 tahun, karena usia tersebut adalah usia terbaik dari pembentukan karakter anak. Sibukan anak dengan belajar sambil bermain. Jauhkan mereka dari gadget, walaupun perlu sesekali mengenalkan teknologi pada mereka, tapi ingat jangan kebablasan. Anak-anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan butuh banyak bergerak untuk merangsang pertumbuhan otak dan badan mereka. Biarkanlah mereka bergerak karena sesungguhnya melatih jari ketika bermain game di atas gadget juga tidak merangsang pertumbuhan. Anda perlu menjadi orang tua yang tegas karena masa depan mereka ada di tangan anda. Ingat ya, tegas bukan kasar.

Selain itu, orangtua perlu mengenalkan sifat-sifat positif terhadap anak, berikan sifat terbaik anda kepada anak anda. Anak-anak selalu merekam dan mencontoh apa yang mereka lihat dan yang mereka lihat setiap hari adalah anda. Jika anda membiasakan diri untuk berbohong dan menakut-nakuti anak anda, maka karakter tidak percaya diri dan sering berbohonglah yang akan melekat pada diri mereka. Hindari pula sifat membully anak dengan kata “cieee cieee” sewaktu dia dekat dengan lawan jenis. Tanpa anda sadari, anda berkontribusi dalam menjerumuskan mereka. Mereka memiliki sensor canggih dalam merekam dan mencontoh setiap gerak-gerik yang mereka lihat, jadi sebelum anda membentuk karakter anak anda, maka bentuklah karakter anda terlebih dahulu. Tentunya karakter dan perilaku yang positif. Oleh karena itu Ali bin Abi Thalib berkata "Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir", itu berarti mendidik mereka sejak dini sama dengan mendidik diri kita mulai dari saat ini. Jadi bagi anda yang belum nikah, anda juga harus memikirkan bagaimana karakter calon anak anda, menjaga diri berarti menjaga karakter calon anak anda, memperbaiki diri berarti memperbaiki calon anak anda, mereka adalah cerminan dari diri anda, gila ya udah calon anak aja, calon pasangan aja belum ada (oke lewaatt itu kedengeran curhat!).

Satu hal lagi yang paling penting yaitu mengenalkan agama sejak dini terhadap anak anda karena agama adalah norma hidup yang sangat penting bagi kehidupan mereka.

So, tidak perlu bilang disitu kadang saya merasa sedih lagi, kita masih memiliki harapan. Bagi anda yang akan menjadi calon orang tua, calon ayah, calon ibu, atau bagi anda yang sudah menjadi orang tua, di tangan andalah nasib anak anda akan menjadi seperti apa. Anda yang berperan memperbaiki dan membentuk karakter mereka. Kalau kata AA Gym, perbaiki mulai dari hal sederhana, mulai dari hal terkecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari saat ini. Mereka tumbuh sesuai impian mereka dan sesuai keinginan mereka. Anda tidak berhak memaksa mereka tapi mereka memiliki pilihan untuk menjadi orang baik maupun orang jahat, dan andalah yang berperan mengarahkan mereka pada jalan yang benar atau jalan yang salah. Tatkala mereka berbelok ke arah yang salah, anda yang akan menuntun mereka kembali ke jalan yang seharusnya. Sekian dan terima kasih, selamat membentuk karakter calon-calon generasi selanjutnya ^^

Akhir kata dari saya, bersyukurlah kalian yang terlahir di era 90an, masa kecil anda bahagia tapi masa dewasanya repot mikirin "gimana nasib anak gueeh entaar, anak jaman sekarang aja udah begini, gimana entaar?" hahahahaha itu saya aja sih, oke thank's sekian dan sekian lagi, maaf ujung-ujungnya suka ngawur karena kalau lagi pengen nulis suka mengalir begitu aja tanpa sadar udah kesana kemari, tiba-tiba pas dicek lagi beberapa minggu kemudian baru ketauan deh tulisannya persis kayak buku diary. Niatnya buat seru-seruan dan share aja sih.Ya, namanya juga blog buat curhat #ehh. Hahahaha. Semoga bermanfaat. See u next time ^^



Rabu, 05 November 2014

Teruntuk, sebagian tulangku

Bagaimana kehidupan kau disana? Baik-baik saja bukan?
Ya...Tentu, semoga kau selalu baik-baik saja....
Lalu, apa kau masih menungguku disana?
Ya...Tentu, kau pasti masih menungguku sekarang...
Apa kau juga masih memikirkanku atau sekedar merindukanku?
Ya...Tentu, kau selalu bilang kau merindukanku...
Tapi, akankah kau tetap seperti itu sampai nanti?
Sampai kau terbagun dalam keadaan kita yang sudah tidak memiliki kita?
Itu.....Aku tak pernah tahu....
Karena aku tak tahu apakah kau sebagian dari tulangku yang hilang selama ini....
Atau hanya bau yang menyerupainya saja....
Bahkan, jika kau hanya bau yang menyerupai sebagian tulangku....
Maka lambat laun kau akan hilang terbawa angin...
Ketahuilah....
Jika aku adalah selembar kertas putih...
Maka, janganlah kau menorehkan tinta hitam di atas kertas itu.....
Jika aku adalah sebuah boneka...
Janganlah kau menjadi tuan yang menyukaiku ketika aku masih baru...
Lalu membuangku ketika aku rusak...
Jika aku adalah seorang puteri...
Janganlah kau menjadi pangeran yang melihat tahta dan parasku...
Nyatanya....
Aku hanyalah seorang manusia biasa....
Maka... sayangi saja aku apa adanya....
Aku bukan seseorang yang memiliki segalanya....
Aku terlalu biasa...
Tidak sekaya, sepintar, secantik, semulia yang kau inginkan....
Itulah sosok yang tidak akan kau temukan dalam diriku...
Lalu, jika kau memiliki kesempatan untuk memiliki seorang puteri...
Dan itu bukanlah aku...
Maka kerjarlah ia....
Aku disini tidak apa-apa....
Jika kau hanyalah bau yang menyerupai sebagian tulangku...
Mungkin puteri itulah angin yang akan membawamu pergi....
Sungguh, aku disini tidak apa-apa....
Karna aku disini tidak pernah tahu wujud dari sebagian tulangku yang hilang...
Jika benar kau...
Maka wujudmu akan terlihat di atas perjanjian antara kau dengan Tuhan kelak...
Tapi untuk melihatnya, sungguh kita harus benar-benar bersabar....
Jika saat ini dipenuhi waktu yang tidak tepat...
Maka, tunggulah hari esok...
Jika ditengah penantianmu...
Ternyata kau menemukan angin yang membuatmu goyah untuk menungguku...
Sungguh, aku disini tidak apa-apa...
Dengan kehadiranmu saja aku sudah bersyukur...
Walau hanya sebagai bau yang menyerupai tulangku...
Apalagi jika kau hadir sebagai bagian dari tulangku yang hilang...
Maka, hanya kepada-Nya aku meminta...
Terimakasih, sudah menghadirkan kau...
Yang bahkan belum aku ketahui wujudnya....

Terima kasih, sahabat :)

Terima kasih, untuk para sahabat, terima kasih atas kasih sayang kalian yang nyata, walaupun kalau di depan suka saling ledek, tapi di belakang saling ngomong bagus, saya hanya sedang melihat semuanya dan tidak tahu cara menyampaikan rasa terima kasih ini. Hanya ingat sahabat2 yang tidak berhenti menjaga saya ketika saya sakit, di asrama, di rumah, di kosan dan mereka tidak peduli capek. Atau sahabat yang menangis karena takut terjadi apa-apa dengan fisik saya. Sahabat-sahabat yang menjada saya di rumah sakit dulu sampai di rumah sakit ramai setiap hari dan saya tidak kesepian. Atau sahabat yang menyelesaikan kasus penipuan yang terjadi pada saya, dengan tulusnya tanpa saya tau mereka menyelesaikannya. Atau sahabat yang dengan tulus tidak mau melepas saya sebagai sahabat hanya karena laki-laki yang menyukainya ternyata menyukai saya tanpa saya tahu. Atau sahabat yang cepat-cepat berlari dari acara kampus ke kosan saya hanya karena tahu saya sedang shock. Atau sahabat yang semalemnya udah saya telpon semaleman padahal cewek tapi udah kayak pacar, besoknya ngajak saya jalan-jalan di tengah sibuk kerja, cuman bilang datar "tuh puas-puasin hibur diri"
Atau sahabat yang selalu nganterin pulang biar selamat sampai kosan karena kebiasaan kena jambret, ketabrak dll. Di saat sedih mereka ada, di saat punya beban mereka bantu, di saat jatuh mereka yang mengulurkan tangan. What a wonderful life, ini kasih sayang nyata. Ternyata banyak yang menyayangi saya tanpa sadar, lalu kenapa saya sampai tidak sadar kalau saya memiliki mereka yang kasih sayangnya sempurna dan belum tentu dimiliki oleh orang lain. Tidak semua orang memiliki sahabat yang nyata. Bahkan satu sahabat bisa mengalahkan ribuan fans atau teman selewat. Lalu, kamu memiliki banyak sahabat. Untuk apa fokus terhadap kasih sayang yang tidak nyata, jelas-jelas kamu sudah memiliki banyak yang nyata. Terima kasih, untuk semua, yang tidak bisa saya sebutkan. Terima kasih :)

Selasa, 04 November 2014

Memahami Seseorang

Hidup itu tentang memahami, ya itulah yang membuka pikiran saya setelah berkali-kali berhadapan dengan orang yang sulit untuk dipahami oleh orang-orang disekitarnya. Lalu, bagaimana caranya saya memahami mereka, jika maksud dan tujuan yang mereka mau saja saya tidak mengerti? Entahlah, terkadang ketika kita tidak mengerti maksud dan keinginan seseorang, selalu saja terjadi salah paham. Hal tersebut terjadi karena komunikasi yang tidak sempurna.

Sebenarnya yang salah itu bukan orangnya, karena setiap orang selalu memiliki pendapat yang berbeda. Setiap orang punya kepala yang isinya pasti gak sama. Otak setiap orang kan terpisah makanya setiap pendapat pasti berbeda, coba kalau nyatu? Kan ngeri juga.

Nah, saya yakin kalau komunikasi terjadi secara sempurna, tidak akan ada salah paham, tidak akan ada istilah saling menuduh dan lain sebagainya. Jadi, ketika masalah-masalah itu timbul ketika kita menyampaikan pendapat, bisa jadi ada sesuatu yang salah dengan komunikasinya. Cari tahu dan perbaiki.

Kemudian di sisi lain seseorang selalu mempunyai sisi yang kita tidak pernah tau, tapi sisi itu terkadang tidak timbul. Nah, cari tahu sisi lainnya yang mungkin itu adalah sisi positif yang akan membantu kita memahami mengapa dia memiliki pendapat seperti itu. See u :)

Sabtu, 15 Februari 2014

Bakat itu, 80% latihan.

Kalau tugas dan ujian sekolah itu resiko, surga dan neraka itu pilihan, kecelakaan itu takdir, sukses itu nasib, maka bakat itu latihan (Oke gak nyambung). Ya, itu cuman kesimpulan yang sebenernya sih kalau dipikir-pikir emang gak nyambung, hehehe :D Nyambung ataupun nggak, yang penting lo bisa ngambil inti dari tulisan ini. Kalau gak bisa...mmmhhh... yaudah berarti ga lucu.

So, guys...kali ini  mau bercerita panjang lebar selama gw hidup dan mencari sisi unik dari dalam diri ini yaitu bakat. Setiap orang pastinya bertanya-tanya dong "sebenernya bakat gw itu apasih???" Termasuk gw, gw udah bertanya-tanya bakat gw itu dimana sedari kecil bahkan gue udah mikirin semenjak berojol sambil nangis eaaa eaaa (ngarang).

Bebeberapa tahun lalu, ketika gw duduk di kelas 3 SMP, gw hanyalah seorang pelajar anak SMP yang gak mau diem. Gw bukan anak berprestasi yang punya otak brilian karna alhamdulillah otak gw pas-pasan. Otak kanan pas, otak kiri juga pas. Gw hanyalah seonggok (dipikir kayu) anak yang gak mau diem. Sebutan itu sebenernya dateng dari mulut sodara-sodara gw yang kesel karena punya sodara gak mau diem (read : gw), kalo orang jawa bilangnya wara-wiri kalo kata orang sunda bilangnya teu daek cicing. Ya, apapunlah itu. Mereka, saudara2 gw bilang gw anak monyet (serius loh, mereka nyebutnya anak onyet, itu sebutan dari sodara2 gw waktu gw kecil) karna sekali ngomong gak pake titik dan gak pake koma. Loncat sana loncat sini gak pake rambu-rambu lalu lintas (Yakali jalan). Oke, skip.

Nah, berhubung gw gak mau diem. Ternyata gw punya bakat2 terpendam. Orang bilang itu bakat, gw bilang itu usaha. Bakat itu emang ada yang alami, tapi kadang seseorang ga sadar bakat yang dia punya. Sebenarnya setiap orang itu punya bakat, gw gak terlalu berbakat juga sih, gw cuman seneng melakukan sesuatu yang kemudian semakin seneng semakin dilakuin, kemudian terlatih, kemudian bisa, kemudian diikutin lomba, kemudian kadang menang kadang nggak. Bakat yang kata orang paling menonjol dari gw adalah gambar, entah itu gambar aliran apapun. Sebenernya biasa aja, karena gak pernah gw latih. Jadi kadang menang lomba cuman sampe tingkat jawa barat, gak pernah internasional gitu (Pengennya). Gw sadar, kenapa gak bisa go internasional itu karena gak latihan, toh gw dulu latihan hampir tiap hari, dari mulai gambar gunung segitiga yang ada matahari di tengahnya, ada sawah, sampe bisa gambar komik. Dimanapun gw berada, di sana selalu ada kertas dan pensil. Kalau gak ada pensil, cukup pilox dan tembok orang #Ups. Dan berhubung gw anak mami yang harus terus belajar, karena merasa otak pas-pasan tapi disuruh ngejar prestasi akademik. Ya, akhirnya cuman bisa nyolong2 waktu buat ngegambar.

Nah, itu sedikit pengalaman aja, jadi bakat itu berawal dari suka. Kita ketemu di lapangan basket umur 10 tahun, beberapa jam kemudian ada yang masih di sana karena suka, ada juga yang pindah ke tempat lain karena bosen. Kemudian beberapa tahun kemudian yang diam di lapang basket tadi jadi pemain basket nasional dan yang lain yang pindah akhirnya jadi penonton. Apa pemain basket itu bisa tiba2 jadi pemain dahsyat dari semenjak berojol bawa2 bola basket? Eaaa eaaa langsung lari nyari ring? Nggak kan? #yaiyalah.

Tapi, dia bisa karena suka. Suka itu bikin kita melakukan walaupun yang dilakukan gak menjanjikan apapun. Nah, dari rasa suka itu biasanya timbul kemauan. Kemauan kemudian memicu buat latihan. Latihan intens bisa bikin orang jadi hebat. So, ketahui apa yang lo suka, latih dan have fun. Karena hidup cuman sekali. Kalau lo suka nangis, mungkin lo berbakat jadi aktor. Bye :D