Rabu, 05 November 2014

Teruntuk, sebagian tulangku

Bagaimana kehidupan kau disana? Baik-baik saja bukan?
Ya...Tentu, semoga kau selalu baik-baik saja....
Lalu, apa kau masih menungguku disana?
Ya...Tentu, kau pasti masih menungguku sekarang...
Apa kau juga masih memikirkanku atau sekedar merindukanku?
Ya...Tentu, kau selalu bilang kau merindukanku...
Tapi, akankah kau tetap seperti itu sampai nanti?
Sampai kau terbagun dalam keadaan kita yang sudah tidak memiliki kita?
Itu.....Aku tak pernah tahu....
Karena aku tak tahu apakah kau sebagian dari tulangku yang hilang selama ini....
Atau hanya bau yang menyerupainya saja....
Bahkan, jika kau hanya bau yang menyerupai sebagian tulangku....
Maka lambat laun kau akan hilang terbawa angin...
Ketahuilah....
Jika aku adalah selembar kertas putih...
Maka, janganlah kau menorehkan tinta hitam di atas kertas itu.....
Jika aku adalah sebuah boneka...
Janganlah kau menjadi tuan yang menyukaiku ketika aku masih baru...
Lalu membuangku ketika aku rusak...
Jika aku adalah seorang puteri...
Janganlah kau menjadi pangeran yang melihat tahta dan parasku...
Nyatanya....
Aku hanyalah seorang manusia biasa....
Maka... sayangi saja aku apa adanya....
Aku bukan seseorang yang memiliki segalanya....
Aku terlalu biasa...
Tidak sekaya, sepintar, secantik, semulia yang kau inginkan....
Itulah sosok yang tidak akan kau temukan dalam diriku...
Lalu, jika kau memiliki kesempatan untuk memiliki seorang puteri...
Dan itu bukanlah aku...
Maka kerjarlah ia....
Aku disini tidak apa-apa....
Jika kau hanyalah bau yang menyerupai sebagian tulangku...
Mungkin puteri itulah angin yang akan membawamu pergi....
Sungguh, aku disini tidak apa-apa....
Karna aku disini tidak pernah tahu wujud dari sebagian tulangku yang hilang...
Jika benar kau...
Maka wujudmu akan terlihat di atas perjanjian antara kau dengan Tuhan kelak...
Tapi untuk melihatnya, sungguh kita harus benar-benar bersabar....
Jika saat ini dipenuhi waktu yang tidak tepat...
Maka, tunggulah hari esok...
Jika ditengah penantianmu...
Ternyata kau menemukan angin yang membuatmu goyah untuk menungguku...
Sungguh, aku disini tidak apa-apa...
Dengan kehadiranmu saja aku sudah bersyukur...
Walau hanya sebagai bau yang menyerupai tulangku...
Apalagi jika kau hadir sebagai bagian dari tulangku yang hilang...
Maka, hanya kepada-Nya aku meminta...
Terimakasih, sudah menghadirkan kau...
Yang bahkan belum aku ketahui wujudnya....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar