Minggu, 22 Maret 2015

Welcome to my life

Peringatan! Ini curhat!

Buka medsos, entah kebetulan atau apa, pas baca pas yang ngomenin mulu orang, yang ini lebih baik dari ini, yang itu lebih baik dari itu. Pas lagi nonton TV, orang sebelah ikut-ikutan ngomenin artis-artis yang pake jilbab buat popularitaslah, cari sensasi beserta komen negatif lainnya. Cowok yang penampilannya rada urakan langsung dijudge negatif, padahal mah kita gak tau kali aja dia rajin sholat, hafalannya mantep. Gak malu apa ngejudge orang sebegitu seriusnya? Kayak dia mau serius aja sama kamu, padahal nggak. hahaha skip >.> 

Ya, namanya juga idup. Jangankan mereka, aku yang cuman biji salak ketendang kaki ayam aja sering banget kena judge buruk dari orang yang baru ketemu satu kali. Pengalaman waktu mau PKL (kalau di IPB namanya KKP) ke Tegal, aku dateng terakhir di penyuluhan karena baru dapet info dipindahin ke Tegal, di tengah-tengah ruangan yang lagi serius aku gak dateng sendiri, bareng kelima temen-temen lainnya. Waktu itu aku paling depan, karna pas mau masuk saling tunjuk-tunjukan, kata si A "lo aja yang duluan",  kata si B "jangan gue atuh, dia aja",  kata si C "lo aja, lo aja" yaudah biar cepet aku paling depan, ketuk pintu, minta izin, jadi sorotan mata, dengan style anak ekonomi yang terkenal manja, merhatiin fashion dll. Jreengg. Seketika langsung dapet judge "Ini anak kayaknya bakal jadi problem team, manja, ga akan turun ke yang becek-becek, hedon, egois dll"

Hell yeah, itu aku tau judge gitu dari temen-temen KKP aku yang kemudian mengklarifikasi di kemudian hari. 
A : Neng, lo diluar dugaan banget. 
N : Kenapa emang?
A : Gue kira lo bakal nyeleneh, manja, ga mau becek-becek, hedon, ya gitu deh pokoknya. Ternyata ya lo aktif banget, nyantei, nurut-nurut aja. Malah yang jadi problem bukan elo neng.
N : Hahahaha masa sih?
A : Serius neng lo tanya aja anak-anak yang lain. Pertama kali lo dateng udah jadi bahan omongan. Sekarang gue bersyukur deh kita seteam, kompak banget. Diluar perkiraan aja.
N : Hahaha, dulu SMA malah pernah dirayap diselokan kayak got, terus diceburin ke pemandian bekas mandi sapi juga pernah.
A : Serius?
N : Iyaaa. Hahahaha

Terus pengalaman dijudge lain pas aku dateng ke lomba kaligrafi, dateng langsung duduk di belakang peserta. Panitia yang baru aja ngehubungin aku langsung nyamperin aku.
R : Mbak neng?
N : Iya, hehe
R : Makasih ya mbak udah dateng. 
Nyodorin tangan, salaman.Temen sebelahnya yang berinisial S langsung nanya
S : Temen lo? Peserta Juga?
R : Temen baru kenal, hehe. Cantik ya?
S : Cantik sih, banyaklah yang cantik doang *bisik-bisik yang kenceng banget*
R : (Gak jawab, langsung beralih nanya aku) Mbak neng minta CVnya ya, ntar nunggu dulu sekitar 2 jam sampe lombanya selesei gapapa kan? Sambil kenalan aja sama juri yang lain, hehe
N : Oh iya, santei aja. Jangan panggil mbak, seangkatan kok.
R : Hahaha iya sih tau, biar agak resmi aja.
S : Oh mbak neng jurinya ya? (Nyamber sambil senyum)
N ; Oh iya kebetulan, hehe. (Sambil nyodorin CV ke R)
R : Wah ini mah bukan kebetulan, di CV nya juri2 sama karya tulis, organisasinya juga banyak.
S : Masa?
R : Cantik doang ya?
S : (Senyum malu)
N : (Ikutan senyum, terus ngedumel di hati, ini orang kok ngomongin orang lain depan orangnya banget)

Pengalaman baru-baru ini juga ada, tiba-tiba sepupu yang jilbaber banget bilang
L : Aku salut sama kamu loh
N : Kenapa?
L : Aku kira kamu pacarnya gonta-ganti. Ternyata nggak pacaran, kok bisa gitu tahan godaan.
N : Pernah kok punya pacar, LDR sih. Pernah juga komitmen serius gitu sama orang tapi belom jodoh terus sekarang mikir yaudahlah males mikirin hal2 kayak gitu.
L : Ya hanya sebatas itu doang kan?
N : Emangnya harus sebatas apa?
L : Aku aja sempet pacaran dan ganti pacar kok.
N : (Lebih shock)
L : Makanya salut sama kamu, aku juga gak tau kalau kamu ngejaga hafalan sama ngajinya juga bagus.
N : Ah, lebay. Nggak sihh, biasa aja.
L : Awalnya aku kira kamu suka gonta ganti pacar gitu neng. Terus kerjaannya main sama kelayapan.
N : (senyum, sambil mikir ebuset seburuk itu apa?)

What? Gonta-ganti pacar? Ngejaga satu aja ribet (Langsung naruh kipas angin depan muka). Aku tau, namanya juga idup. Bolehlah dijudge macem2. Cuman kadang suka gak nyangka aja kalau tiba-tiba ada yang jujur bahwa mereka awalnya ngejudge aku begini taunya begitu. Iya, gak aneh ada yang bilang terlalu dewasa taunya kekanak-kanakan, terlalu kekanak-kanakan taunya dewasa, keras kepala taunya woles, woles taunya keras kepala, apapunlah. Namanya juga manusia. Tapi, aku bukan orang yang fanatik kemudian ngejudge pacaran, jilbab, atau segala macem tentang sifat dan sikap orang. Aku ngejalanin yang aku jalanin karena aku merasa nyaman dengan yang aku jalani dan yang penting gak bikin orang sakit hati. Termasuk kamu, siapapun kamu, kamu yang mau datang ke hidup aku sebagai teman, sahabat, keluarga, orang spesial, atau musuh. Kamu yang memilih menjadi bagian hidupku, pintu aku terbuka selebar-lebarnya untuk kamu, siapapun kamu. Just, welcome to my life!

Kamis, 05 Maret 2015

Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini

Baru-baru ini media sosial baru saja dihebohkan dengan postingan mesra anak-anak SD tehadap pacarnya. Kita sebagai orang dewasa tentu prihatin dengan fenomena sosial yang terjadi pada anak-anak tersebut. Banyak sekali anak-anak yang masih berusia dini, masih duduk di bangku Sekolah Dasar, bahkan yang masih menginjak usia "golden age" sudah berperilaku layaknya orang dewasa. Dalam arti lain mereka mengalami pendewasaan dini yang tidak seharusnya terjadi pada usia mereka. Anak-anak saat ini cenderung mengalami pendewasaan dari sisi perilaku dan pola pikir yang sangat dipaksakan. Usia anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar merupakan usia dimana mereka seharusnya masih asyik bermain, bukan asyik pacaran. Namun fenomena sosial yang terjadi saat ini sungguh sangat mengejutkan. Anak-anak usia dini sudah mengerti bagaimana cara memperlakukan lawan jenis secara "spesial", tahu bagaimana "menjadi pacar yang baik", bermesraan, selingkuh dan lain sebagainya. Fokus mereka terhadap belajar dan bermain pun teralihkan dengan hal-hal seperti itu. Lalu, bagaimana nasib calon penerus bangsa ini? Apakah ini fenomena penghancuran karakter anak bangsa secara massal? Ya, disitu kadang saya merasa sedih.

Perlu kita ketahui, tumbuh kembang anak tidak lepas dari peran orang tua, keluarga, guru dan lingkungan. Bukan sepenuhnya salah mereka, jika mereka mengalami pendewasaan dini yang tidak seharusnya. Mungkin mereka adalah cerminan dari diri kita. Jika tiba-tiba beredar di media sosial anak-anak SD umbar kemesraan dengan pacar layaknya orang dewasa, mungkin mereka mencontoh orang-orang dewasa yang mengumbar kemesraan di media sosial. Hanya saja mereka melihat, merekam dan mencontoh sebelum waktunya. Maka bersyukurlah kalian yang jomblo, karena kalian tidak menyumbang penghancuran karakter anak-anak (Itu pembelaan aja sih buat yang jomblo.... >.> ).

Anda juga pasti tahu bahwa teknologi adalah monster yang sangat berperan penting dalam membentuk karakter anak, khususnya anak-anak jaman sekarang. Tidak heran jika muncul istilah anak korban teknologi. Mending kalau positif, kalau negatif? Itu yang perlu diwaspadai. Di usia anak-anak, mereka selalu merekam, mencontoh dan melakukan apa yang mereka lihat. Disanalah peran orang tua begitu dibutuhkan, terutama peran dari seorang ibu. Penting sekali orang tua khususnya ibu memperhatikan perubahan perilaku yang terjadi pada anaknya. Tapi bukan berarti bapak-bapak juga tidak berperan ya, hanya saja ibu sejenis malaikat yang paling peka terhadap perubahan perilaku anak-anaknya. Melihat perkembangan teknologi yang sudah seperti bom dan sewaktu-waktu bisa menghancurkan karakter anak anda. Maka perlu adanya pembatasan akses teknologi seperti televisi, handphone, internet, dan sosial media. Dampingi dan pilihlah acara televisi yang bagus untuk anak-anak anda, atau kalau perlu delete aja deh channel yang isinya sinetron gak bermutu dari TV anda. Batasi dan awasi pula penggunaan handphone maupun internet.

Nah, sebelum anak anda menginjak usia anak-anak yang sudah bisa mengakses teknologi tersebut, kuatkan pembentukan karakter anak pada usia golden age atau usia 0-6 tahun, karena usia tersebut adalah usia terbaik dari pembentukan karakter anak. Sibukan anak dengan belajar sambil bermain. Jauhkan mereka dari gadget, walaupun perlu sesekali mengenalkan teknologi pada mereka, tapi ingat jangan kebablasan. Anak-anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan butuh banyak bergerak untuk merangsang pertumbuhan otak dan badan mereka. Biarkanlah mereka bergerak karena sesungguhnya melatih jari ketika bermain game di atas gadget juga tidak merangsang pertumbuhan. Anda perlu menjadi orang tua yang tegas karena masa depan mereka ada di tangan anda. Ingat ya, tegas bukan kasar.

Selain itu, orangtua perlu mengenalkan sifat-sifat positif terhadap anak, berikan sifat terbaik anda kepada anak anda. Anak-anak selalu merekam dan mencontoh apa yang mereka lihat dan yang mereka lihat setiap hari adalah anda. Jika anda membiasakan diri untuk berbohong dan menakut-nakuti anak anda, maka karakter tidak percaya diri dan sering berbohonglah yang akan melekat pada diri mereka. Hindari pula sifat membully anak dengan kata “cieee cieee” sewaktu dia dekat dengan lawan jenis. Tanpa anda sadari, anda berkontribusi dalam menjerumuskan mereka. Mereka memiliki sensor canggih dalam merekam dan mencontoh setiap gerak-gerik yang mereka lihat, jadi sebelum anda membentuk karakter anak anda, maka bentuklah karakter anda terlebih dahulu. Tentunya karakter dan perilaku yang positif. Oleh karena itu Ali bin Abi Thalib berkata "Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir", itu berarti mendidik mereka sejak dini sama dengan mendidik diri kita mulai dari saat ini. Jadi bagi anda yang belum nikah, anda juga harus memikirkan bagaimana karakter calon anak anda, menjaga diri berarti menjaga karakter calon anak anda, memperbaiki diri berarti memperbaiki calon anak anda, mereka adalah cerminan dari diri anda, gila ya udah calon anak aja, calon pasangan aja belum ada (oke lewaatt itu kedengeran curhat!).

Satu hal lagi yang paling penting yaitu mengenalkan agama sejak dini terhadap anak anda karena agama adalah norma hidup yang sangat penting bagi kehidupan mereka.

So, tidak perlu bilang disitu kadang saya merasa sedih lagi, kita masih memiliki harapan. Bagi anda yang akan menjadi calon orang tua, calon ayah, calon ibu, atau bagi anda yang sudah menjadi orang tua, di tangan andalah nasib anak anda akan menjadi seperti apa. Anda yang berperan memperbaiki dan membentuk karakter mereka. Kalau kata AA Gym, perbaiki mulai dari hal sederhana, mulai dari hal terkecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari saat ini. Mereka tumbuh sesuai impian mereka dan sesuai keinginan mereka. Anda tidak berhak memaksa mereka tapi mereka memiliki pilihan untuk menjadi orang baik maupun orang jahat, dan andalah yang berperan mengarahkan mereka pada jalan yang benar atau jalan yang salah. Tatkala mereka berbelok ke arah yang salah, anda yang akan menuntun mereka kembali ke jalan yang seharusnya. Sekian dan terima kasih, selamat membentuk karakter calon-calon generasi selanjutnya ^^

Akhir kata dari saya, bersyukurlah kalian yang terlahir di era 90an, masa kecil anda bahagia tapi masa dewasanya repot mikirin "gimana nasib anak gueeh entaar, anak jaman sekarang aja udah begini, gimana entaar?" hahahahaha itu saya aja sih, oke thank's sekian dan sekian lagi, maaf ujung-ujungnya suka ngawur karena kalau lagi pengen nulis suka mengalir begitu aja tanpa sadar udah kesana kemari, tiba-tiba pas dicek lagi beberapa minggu kemudian baru ketauan deh tulisannya persis kayak buku diary. Niatnya buat seru-seruan dan share aja sih.Ya, namanya juga blog buat curhat #ehh. Hahahaha. Semoga bermanfaat. See u next time ^^