Kamis, 05 Maret 2015

Pembentukan Karakter Anak Sejak Dini

Baru-baru ini media sosial baru saja dihebohkan dengan postingan mesra anak-anak SD tehadap pacarnya. Kita sebagai orang dewasa tentu prihatin dengan fenomena sosial yang terjadi pada anak-anak tersebut. Banyak sekali anak-anak yang masih berusia dini, masih duduk di bangku Sekolah Dasar, bahkan yang masih menginjak usia "golden age" sudah berperilaku layaknya orang dewasa. Dalam arti lain mereka mengalami pendewasaan dini yang tidak seharusnya terjadi pada usia mereka. Anak-anak saat ini cenderung mengalami pendewasaan dari sisi perilaku dan pola pikir yang sangat dipaksakan. Usia anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar merupakan usia dimana mereka seharusnya masih asyik bermain, bukan asyik pacaran. Namun fenomena sosial yang terjadi saat ini sungguh sangat mengejutkan. Anak-anak usia dini sudah mengerti bagaimana cara memperlakukan lawan jenis secara "spesial", tahu bagaimana "menjadi pacar yang baik", bermesraan, selingkuh dan lain sebagainya. Fokus mereka terhadap belajar dan bermain pun teralihkan dengan hal-hal seperti itu. Lalu, bagaimana nasib calon penerus bangsa ini? Apakah ini fenomena penghancuran karakter anak bangsa secara massal? Ya, disitu kadang saya merasa sedih.

Perlu kita ketahui, tumbuh kembang anak tidak lepas dari peran orang tua, keluarga, guru dan lingkungan. Bukan sepenuhnya salah mereka, jika mereka mengalami pendewasaan dini yang tidak seharusnya. Mungkin mereka adalah cerminan dari diri kita. Jika tiba-tiba beredar di media sosial anak-anak SD umbar kemesraan dengan pacar layaknya orang dewasa, mungkin mereka mencontoh orang-orang dewasa yang mengumbar kemesraan di media sosial. Hanya saja mereka melihat, merekam dan mencontoh sebelum waktunya. Maka bersyukurlah kalian yang jomblo, karena kalian tidak menyumbang penghancuran karakter anak-anak (Itu pembelaan aja sih buat yang jomblo.... >.> ).

Anda juga pasti tahu bahwa teknologi adalah monster yang sangat berperan penting dalam membentuk karakter anak, khususnya anak-anak jaman sekarang. Tidak heran jika muncul istilah anak korban teknologi. Mending kalau positif, kalau negatif? Itu yang perlu diwaspadai. Di usia anak-anak, mereka selalu merekam, mencontoh dan melakukan apa yang mereka lihat. Disanalah peran orang tua begitu dibutuhkan, terutama peran dari seorang ibu. Penting sekali orang tua khususnya ibu memperhatikan perubahan perilaku yang terjadi pada anaknya. Tapi bukan berarti bapak-bapak juga tidak berperan ya, hanya saja ibu sejenis malaikat yang paling peka terhadap perubahan perilaku anak-anaknya. Melihat perkembangan teknologi yang sudah seperti bom dan sewaktu-waktu bisa menghancurkan karakter anak anda. Maka perlu adanya pembatasan akses teknologi seperti televisi, handphone, internet, dan sosial media. Dampingi dan pilihlah acara televisi yang bagus untuk anak-anak anda, atau kalau perlu delete aja deh channel yang isinya sinetron gak bermutu dari TV anda. Batasi dan awasi pula penggunaan handphone maupun internet.

Nah, sebelum anak anda menginjak usia anak-anak yang sudah bisa mengakses teknologi tersebut, kuatkan pembentukan karakter anak pada usia golden age atau usia 0-6 tahun, karena usia tersebut adalah usia terbaik dari pembentukan karakter anak. Sibukan anak dengan belajar sambil bermain. Jauhkan mereka dari gadget, walaupun perlu sesekali mengenalkan teknologi pada mereka, tapi ingat jangan kebablasan. Anak-anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan butuh banyak bergerak untuk merangsang pertumbuhan otak dan badan mereka. Biarkanlah mereka bergerak karena sesungguhnya melatih jari ketika bermain game di atas gadget juga tidak merangsang pertumbuhan. Anda perlu menjadi orang tua yang tegas karena masa depan mereka ada di tangan anda. Ingat ya, tegas bukan kasar.

Selain itu, orangtua perlu mengenalkan sifat-sifat positif terhadap anak, berikan sifat terbaik anda kepada anak anda. Anak-anak selalu merekam dan mencontoh apa yang mereka lihat dan yang mereka lihat setiap hari adalah anda. Jika anda membiasakan diri untuk berbohong dan menakut-nakuti anak anda, maka karakter tidak percaya diri dan sering berbohonglah yang akan melekat pada diri mereka. Hindari pula sifat membully anak dengan kata “cieee cieee” sewaktu dia dekat dengan lawan jenis. Tanpa anda sadari, anda berkontribusi dalam menjerumuskan mereka. Mereka memiliki sensor canggih dalam merekam dan mencontoh setiap gerak-gerik yang mereka lihat, jadi sebelum anda membentuk karakter anak anda, maka bentuklah karakter anda terlebih dahulu. Tentunya karakter dan perilaku yang positif. Oleh karena itu Ali bin Abi Thalib berkata "Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia lahir", itu berarti mendidik mereka sejak dini sama dengan mendidik diri kita mulai dari saat ini. Jadi bagi anda yang belum nikah, anda juga harus memikirkan bagaimana karakter calon anak anda, menjaga diri berarti menjaga karakter calon anak anda, memperbaiki diri berarti memperbaiki calon anak anda, mereka adalah cerminan dari diri anda, gila ya udah calon anak aja, calon pasangan aja belum ada (oke lewaatt itu kedengeran curhat!).

Satu hal lagi yang paling penting yaitu mengenalkan agama sejak dini terhadap anak anda karena agama adalah norma hidup yang sangat penting bagi kehidupan mereka.

So, tidak perlu bilang disitu kadang saya merasa sedih lagi, kita masih memiliki harapan. Bagi anda yang akan menjadi calon orang tua, calon ayah, calon ibu, atau bagi anda yang sudah menjadi orang tua, di tangan andalah nasib anak anda akan menjadi seperti apa. Anda yang berperan memperbaiki dan membentuk karakter mereka. Kalau kata AA Gym, perbaiki mulai dari hal sederhana, mulai dari hal terkecil, mulai dari diri sendiri dan mulai dari saat ini. Mereka tumbuh sesuai impian mereka dan sesuai keinginan mereka. Anda tidak berhak memaksa mereka tapi mereka memiliki pilihan untuk menjadi orang baik maupun orang jahat, dan andalah yang berperan mengarahkan mereka pada jalan yang benar atau jalan yang salah. Tatkala mereka berbelok ke arah yang salah, anda yang akan menuntun mereka kembali ke jalan yang seharusnya. Sekian dan terima kasih, selamat membentuk karakter calon-calon generasi selanjutnya ^^

Akhir kata dari saya, bersyukurlah kalian yang terlahir di era 90an, masa kecil anda bahagia tapi masa dewasanya repot mikirin "gimana nasib anak gueeh entaar, anak jaman sekarang aja udah begini, gimana entaar?" hahahahaha itu saya aja sih, oke thank's sekian dan sekian lagi, maaf ujung-ujungnya suka ngawur karena kalau lagi pengen nulis suka mengalir begitu aja tanpa sadar udah kesana kemari, tiba-tiba pas dicek lagi beberapa minggu kemudian baru ketauan deh tulisannya persis kayak buku diary. Niatnya buat seru-seruan dan share aja sih.Ya, namanya juga blog buat curhat #ehh. Hahahaha. Semoga bermanfaat. See u next time ^^



3 komentar:

  1. Sangat bermamfaat. :)

    Pendidikan karakter memang sangat penting untuk pembentukan karakter anak :)

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus